Sabtu, 24 September 2011

Mata Air Keluhuran

0 komentar

Oleh : M. Anis Matta,Lc.

Galau benar hati sang raja. Putra mahkotanya ternyata seorang pemuda pemalas. Apatis. Talenta raja – raja tidak terlihat dalam pribadinya. Suatu saat sang raja menemukan cara mengubah pribadi putranya : the power of love.
Sang raja mendatangkan gadis – gadis cantik ke istananya. Istana pun seketika berubah jadi taman : semua bunga mekar disana. Dan terjadilah itu. Sesuatu yang memang ia harapkan : putranya jatuh cinta pada salah seorang diantara mereka. Tapi kepada gadis itu sang raja berpesan, “Kalau putraku menyatakan cinta padamu, bilang padanya, “Aku tidak cocok untukmu. Aku hanya cocok untuk seorang raja atau seseorang yang berbakat jadi raja”.
Benar saja. Putra mahkota itu seketika tertantang. Maka iapun belajar. Ia mempelajari segala hal yang harus diketahui seorang raja. Ia melatih dirinya untuk menjadi raja. Dan seketika talenta raja – raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata. Tapi karena cinta.
Cinta telah bekerja dalam jiwa anak itu secara sempurna. Selalu begitu : menggali tanah jiwa manusia, sampai alam, dan terus ke dalam, sampai bertemu mata air keluhurannya. Maka meledaklah potensi kebaikan dan keluhuran dalam dirinya. Dan mengalirlah dari mata air keluhuran itu sungai – sungai kebaikan kepada semua yang ada di sekelilingnya. Deras. Sederas arus sungai yang membanjir, desak mendesak menuju muara. Cinta menciptakan perbaikan watak dan penghalusan jiwa. Cinta memanusiakan manusia dan mendorong kita memperlakukan manusia dengan etika kemanusiaan yang tinggi.
Jatuh cinta adalah peristiwa paling penting dalam sejarah kepribadian kita. Cinta, kata Quddamah, mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut. Kalau cinta kepada Allah membuat kita mampu memenangkan Allah dalam segala hal, maka cinta kepada manusia atau hewan atau tumbuhan atau apasaja, mendorong kita mempersembahkan semua kebaikan yang diperlukan orang atau binatang atau tanaman yang kita cintai. Jatuh cinta membuat kita mau merendah, tapi sekaligus bertekad penuh untuk menjadi lebih terhormat.
Cobalah simak cerita cinta Letnan Jendral Purnawirawan Yunus Yosfiah, yang suatu saat ia tuturkan pada saya dan beberapa kawan lain. Ketika calon istrinya menyatakan bersedia hijrah dari katolik menuju islam, ia bergetar hebat. ”Kalau cinta telah mengantar hidayah pada calon istrinya,” katanya membatin, ”Seharusnya atas nama cinta ia mempersembahkan sesuatu yang istimewa padanya.” Ia sedang bertugas di Timor Timur saat itu. Maka ia berjanji, ”Besok aku akan berangkat untuk sebuah operasi. Aku berharap bisa memeprsembahkan kepala dedengkot Fretilin untukmu.” Tiga hari kemudian, janji itu ia bayar lunas.
Gampang saja memahaminya. Keluhuran selalu lahir dari mata air cinta. Sebab, ”cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintrainya”, kata Ibnu Qoyyim.

(Dari majalah Tarbawi edisi 81 Th.5/Shafar 1425 H/2 April 2004 M)

Jumat, 23 September 2011

Tanpa ruhiyah kering lah semua......

0 komentar
Dalam menuju sebuah kemengan atau kebangkitan dakwah, bukan hanya di butuhkan sebuah semangat heroisme dan cita-cita dakwah, tanpa memperhatiakn nilai-nilai ruhiyah terhadap aktifis dakwah di dunia kampus, aktivitas ruhiyah sangat lah urgent untuk menyokong kebangkitan dan kemenagan dakwah yang kita lakukan.tanpa nilai – nilai ruhiyah mustahil kemengan itu akan hadir sesuai dengan yang telah di impikan bersama.

Apa lagi kita adalah para dai kampus yang senantisan mengajak orang lain untuk beriman dan bertaqwa kepada ALLAH ,mustahil rasa nya jika kita sendiri kering akan nilai-nilai ruhiyah terhadap diri sendiri,jangan sampai kita menjadi orang-orang bani israil yang di sebut oleh ALLAH dalam Al-qur’an sebagai berikut:

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?(al-baqoroh 44)

Cukup lah jelas ayat ini menggambarkan kepada kita  aktifis dakwah kampus,agar tidak hanya mengajak kepada kebaikan kemudian melupakan diri sendiri untuk benar-benar beribadah kepada ALLAH.karakter dakwah islam bukan hanya mengajak oraang lain untuk berbuat baik,akan tetapi  tidak memperhatikan diri sendiri dan bukan hanya bicara tentang keimanan dan ketaqwaan untuk orang lain , tetapi lupa dengan kondisi keimanan dan ketaqwaan nya sendiri .dalamsurah lain ALLAH berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan(as-shaff3-4)

Oleh sebab itu lah seorang aktivis dakwah haruslah benar benar menjaga kondisi keimanan dan  ketaqwaan nya kepada ALLAH swt serta nilai ihsan dalam beramal  yang akan mengantarkan para kativis dakwah menuju pada kondisi yaqzahah ruhiyah (ruh yang selalu terjaga) dan sur’atul istinjab(cepat merespone,dan peka)terhadap kondisi yang terjadi di dalamkampus maupun kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar, kekuatan ruhiyah dapat di ukur dengan beberapa aspek diantara nya adalah,ruhiyah yang baik akan melahirkan sebuah semangat dalam beribadah,rindu dengan keridhoaan ALLAH , dan berkeinginan kuat untuk menjadi mujahid dan syahi fi sabiliilah kemudian kekuatan ruhiyah juga akan membuat terjaga nya nurani ,sehingga ghiroh terhadap kebenaran dan yang terakhir dalam mengukur kekuataan ruhiyah  adalah berkemauan untuk mencapai tujuan mulia dalam kehidupan.

Sungguh amat rugi besar jika jika kita sebagai aktivis dakwah kampus ,hanyalah berbekal sebuah semngat tanpa memperhatikan nilai-nilai ruhiyah dalam proses terbawi,kemungkinan besar karakter aktivis dakwah kampus yang seperti ini ,tidak akan mampu bertahan lama,karena mereka akan di hinggapi rasa malas di karenakan banyak nya agenda dakwah ,tanpa di selingi dengan nilai ruhiyah.

Hanya dengan kembali kapada ALLAH lah segala kejenuhan dan kemalasan dalam dakwah di dunia kampus akan terobati dan kita mampu menjadi rijal-rijal islam yang tegar dan kokoh,kedekatan terhadap ALLAH pun telah lama di contohkan oleh nabi muhhamad saw ketika beliau membuka dakwah di toif beliau selalu dekat dengan ALLAH dalam situasi dan kondisi bagai mana pun. Berikut pengaduan rosul kepada ALLAH terhadap perlakuan kaum durhaka itu,

Ya ,ALLAH kepada mu aku mengadukan segala kelemahan ku,kurang nya kesanggupanku,dan kerendahan diri ku terhadap manusia.wahai dzat yang maha pengasih dan maha penyayang ,engkaulah pelindung bagi silemah dan engkau adalah pelindungku!kepada siapakah diri ini hendak engkau serahkan ?kepada orang jauh berwajah suram kepadaku,ataukah kepada musuh yang akan menguasai diri ku?jika engkau tidak  murka kepada ku semua tak kan ku hiraukan,karena amat banyak dan besar nikmat yang engkau berikan kepada ku...

Aku berlindung kepada cahaya wajah MU,yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akherat dari murka MU yang hendak engkau turunkan kepada ku,hanya engkau yang berhak menegur  dan mempermasalahkan diri ku hingga engkau berkenan.Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun kecuali atas perkataan MU.

Inilah sebuah warisan besar dan narasi yang takan tergerus oleh jaman ,tentang bagaimana kita harus bersikap sebagai da’i-da’i kampus,agent perubah menuju kampus yang madani islami,dengan kekuatan ruhiyah yang mantap akan hilang semua kelelahan dan kemalasan dalam jalan dakwah ini ,yang hanya adalah kenikmataan dakwah dan kelezatan perjuangan bersama agama yang benar dinul islam.
 Dengan suasana ruhiyah para aktivis dakwah tidakakan di lalaikan dan terjebak dengan halyang bersifat tidak berguna,dan dengan ruhiyah yang mantab pula tidak dapatmenggelincirkan pada jurang ketidakseimbangan dalam dakwah kampus

BY . MOHAMMAD NAJIH.

Sabtu, 09 Juli 2011

Bagaimana Mereka Mendidik Kami (Tulisan seorang Anak Kader Dakwah)

0 komentar
By.faguza abdullah
 
Saya bingung ingin memulai kisah ini dari mana ketika seseorang yang saya hormati meminta saya menuliskan tentang bagaimana orangtua saya mendidik saya—atau lebihnya tepatnya “kami”, saya dan adik-adik saya. Kedua orangtua saya, adalah orang yang betul-betul sederhana. Dan karena saking sederhananya itulah saya merasa bingung apa yang mesti saya tulis di sini.

Mereka bukan siapa-siapa di jagat raya ini. Mereka orang biasa, yang bila berada di antara kerumunan orang tak akan menjadi pusat perhatian. Tapi berbeda jika mereka sudah berada di rumah. Mereka seperti matahari, yang menjadi pusat perputaran planet-planet dalam gugusan bima sakti. Dan kamilah planet-planet itu.

***

Sebelum saya dipindahkan ke SDIT pada kelas 2 SD, saya bersekolah di SD Islam As Salafy. Namanya saja ada embel-embel “Islam”. Tapi nilai-nilai yang ditanamkan, layaknya di sekolah biasa. Nilai-nilai kebaikan standar. Malah, aneh betul kayaknya tiap orangtua murid dan guru memperhatikan saya lantaran saya memakai jilbab dan seragam sekolah yang lebih panjang dari yang lain. Seolah-olah ada yang salah dengan saya.

Ya, saya memang berbeda di antara sekian ratus siswa di sekolah itu. Mata murid-murid melirik, bertanya-tanya; kenapa pakai jilbab ke sekolah? Bukankah pakai jilbab kalau kita ke TPA saja? Apalagi kalau Ummi datang ke sekolah. Wah mencuri perhatian betul itu. Karena Ummi memakai gamis dan jilbab lebar lengkap pula pakai kaus kaki walaupun alas kaki yang digunakan cuma sandal jepit swallow. Kalau Ummi menambah pakaiannya dengan cadar, mungkin mata-mata itu bukan menatap atau melirik lagi. Tapi melotot. Sebaliknya, guru yang pakai jilbab dengan rok sepan sedengkul tidak dianggap aneh.

Mungkin itu perasaan ‘berbeda’ yang saya rasakan pertama kali dengan amat jelas. Pada kenyataannya memang keluarga kami berbeda dengan para tetangga. Tapi jangan salah, berbeda bukan berarti lantas kami menutup diri. Walau Ummi adalah orang yang tidak banyak omong, tapi Ummi ramah pada tetangga. Para tetangga menganggap keluarga kami mungkin keluarga santri atau setidaknya paham agama. Sehingga para orangtua mengirim anak-anaknya ke rumah kami untuk belajar mengaji.

Saya lupa bagaimana dulu orangtua saya menjelaskan pada saya dan adik-adik yang perempuan tentang jilbab. Seingat saya, kelas 1 SD itu saya sudah rutin memakai jilbab kalau keluar rumah. Walaupun baju yang saya kenakan tidak menutup seluruh aurat. Saya kecil kerap memakai baju tidur sedengkul-lengan-pendek, tapi berjilbab, berlari-larian main petak jongkok dengan anak-anak sebaya. Yang saya ingat dulu, Abi seringkali berteriak meledek saya kalau kedapatan saya tidak mengenakan jilbab. Ia memanggil saya begini; “Hei, Ahmad!”

Sebagai anak perempuan kecil, saya ogah diasosiasikan sebagai lelaki.

***

Di rumah kami ada barang yang baru kami punyai ketika saya SMP, yaitu televisi. Sebelumnya, kami tak mengenal baik benda itu. Pernah punya tivi, tapi tidak lama karena tivi yang kami punya masih hitam putih, tivi tahun 60-an dengan gambar yang kruwek-kruwek. Bentuknya juga antik, udah ga jaman banget di tahun 90-an itu; kotak kayu, dengan tombol-tombol untuk pindah channelnya di sisi kanan. Kacanya pun cembung bukan main. Tivi ini juga cuma bisa menangkap dua stasiun; TVRI dan TPI. Yah, mana ada yang mau berlama-lama menonton dengan tivi butut—sementara pada saat itu sudah eranya tivi berwarna dan ber-remote control?

Entah apa memang orangtua kami asli tidak mampu membeli tivi baru atau memang mereka punya prinsip sendiri soal tivi. Tapi yang jelas, tak mudah meminta tivi baru. Jangankan itu, meminta dibelikan mainan baru atau sesuatu yang sedang ngetrend saat itu di dunia anak-anak pun, kami mesti susah-susah mengajukan ‘proposal’ (berupa rengekan yang bisa berujung pada tangisan) apa manfaat barang itu bagi kami.

Ketika lagi trend koleksi kertas surat, hampir seluruh teman sekelas saya yang perempuan punya itu. Begitu juga teman sekelas adik saya. Demam kertas surat melanda satu sekolah (saat itu saya sudah sekolah di SDIT IQRO’). Rasanya, saya saja di kelas yang tidak punya koleksi semacam itu. Saya cuma menonton bagaimana teman-teman saya mengatur kertas-kertas surat nan wangi itu, mengeluarkannya dari map, menjejerkannya di meja, menumpuknya dengan rapi, memasukkannya lagi ke map, lalu mengulang ritme yang sama setiap ada kesempatan sembari bercerita ini beli di mana atau menukar dengan siapa.

Begitu juga saat demam stiker tokoh-tokoh kartun. Saya menjadi penonton. Atau ketika demam koleksi kertas file bergambar. Saya pun tidak punya itu. Atau (lagi) ketika demam pulpen gantung bak wartawan yang tintanya wangi, saya juga tidak punya itu. Saya berbeda. Dan kala itu, perasaan berbeda bukan lagi perasaan pertama, tapi ke sekian kalinya.

Ingin juga sih punya itu semua. Yah saya kan anak kecil biasa yang suka iri melihat milik teman. Tapi meminta pada orangtua itu semua, butuh energi untuk menjelaskan; sebenarnya untuk apa barang-barang itu? Dan orangtua kami, menanyakan hal tersebut bukan untuk basa-basi. Kalau memang kami tidak bisa menjelaskan alasan kenapa kami ingin barang-barang tertentu, mereka tidak akan memberikannya. Mau sampai nangis guling-guling di tanah pun, orangtua kami tidak akan mencabut kata-katanya. Belakangan, saya tahu sebenarnya hati Ummi sakit melihat anaknya meminta sesuatu sampai menangis apalagi sampai guling-guling di lantai. Tapi memang harus ada sakit yang tertanggung untuk sebuah kebaikan.

Ummi ataupun Abi tidak menurunkan posisi tawar demi melihat kami ngamuk sampai guling-guling. Mereka tidak lantas bilang: “Ya deh, ya deh… Abi belikan nanti…” Bagi mereka, kami tidak boleh belajar ‘menangis untuk mendapatkan sesuatu’.

Ketika sudah tenang dari isak tangis dan amukan, barulah ada kata-kata yang mampu meluluhkan hati.

“Bukannya ga boleh punya kertas file. Boleh-boleh aja, tapi kan tadi Ummi nanya; buat apa? Kalo cuma untuk dikoleksi, apa nggak buang-buang uang? Padahal kamu tuh butuh barang lain yang lebih penting. Coba aja liat besok. Pasti besok temen-temen kamu udah bosen sama kertas file. Ganti lagi koleksi yang lain. Dulu juga begitu kan? Semuaaaa punya kertas surat. Tapi lama-lama temen-temen kamu bosen sama kertas surat. Terus ganti sekarang ganti kertas file. Terus dikemanain kertas suratnya? Jadi bungkus cabe? Apa disimpen aja? Apa iya kertas suratnya dipake buat kirim surat ke temen?”

“Tapi kan semua temen punya, masa aku ga punya…”

“Udah, santai aja. Ga ditangkep polisi kok kalo ga punya kertas file…”

Saya yakin, orangtua saya tidak paham teori gelombang otak yang katanya, kalau ingin mendoktrin anak itu paling baik saat otak berada dalam keadaan tenang antara sadar dan tidak. Tapi memang, orangtua saya biasanya mendiamkan dan tidak memberikan wejangan apa-apa saat kami-kami ini mengamuk. Nasehat baru keluar ketika sudah capek menangis dan guling-guling, sementara otak mengirim sinyal ke mata agar mengantuk.

Rasanya, orangtua saya juga tidak berkata; “Nanti kalau Abi ada rezeki, Abi belikan ya kertas suratnya…”

Logis sih, karena bisa jadi ketika Abi ada rezeki, barang yang saya mau (misalnya kertas surat wangi dan bergambar indah itu) sudah tidak ngetrend lagi untuk dijadikan koleksi. Punya tapi telat, kan rasanya ketinggalan jaman banget. Dan memang trend itu begitu. Berubah dengan cepat seiring cuaca.

Ketika Abi ada rezeki, yang Abi belikan pada kami adalah buku. Macam-macam buku dan majalah. Kami juga berlangganan majalah anak-anak Aku Anak Saleh dan Orbit, di samping berlangganan koran Republika. Kami punya setumpuk koleksi kisah nabi-nabi terbitan Rosda Karya yang nama belakang penulisnya saya ingat “Pamungkas”. Saya ingat nama belakangnya saja, karena dulu saya pernah bertanya pada Ummi: “Pamungkas itu artinya apa, Mi?” Ummi jawab: “Terakhir”. Saya ngomong lagi: “Berarti dia anak terakhir dong, Mi?” Ummi jawab: “Iya. Bisa jadi…”. Itu sekedar intermezzo.

Jadi rasanya aneh kalau bilang orangtua saya pelit karena anaknya tidak dibelikan ini-itu yang dimau. Karena memang orangtua saya tidak pelit kalau sudah menyangkut hal-hal-yang-memang-kami-butuhkan-bukan-sekedar-keinginan. Saya ingat, Ummi bahkan pernah menjual cincin satu-satunya agar saya dan Rusyda (adik saya) bisa ikut acara kemah dari sekolah. Acaranya selama tiga hari dan banyak perlengkapan yang harus dibawa. Di saat yang bersamaan, Ummi dan Abi tidak punya cukup uang untuk biaya kemah tersebut. Maka Ummi pergi pagi-pagi ke Pasar Pondok Gede, menjual satu-satunya cincin miliknya yag polos tanpa ukiran dan permata sebagai hiasan, dan pulang ke rumah membawa pula barang-barang yang kiranya kam perlukan selama kemah.

Saya tahu kemudian Ummi menjual cincinnya untuk kami, ketika saya dapati pulang dari pasar Ummi tidak memakai cincin itu lagi. Padahal, cincin itu adalah ciri khasnya. Selalu ada di jari manis kanannya. Sehingga janggal sekali bila mendapati Ummi tanpa cincin emas polos itu.

Peristiwa sederhana ini yang kemudian selalu ingatkan saya; bahwa orangtua kami yang sederhana ini, sebetulnya kaya. Mereka punya banyak stok kesabaran untuk mendidik kami secara konsisten. Mereka punya banyak stok keikhlasan untuk tidak mengungkit apa yang telah mereka lakukan. Mereka punya banyak stok harapan untuk melihat kami menjadi ‘seseorang’ bukan ‘seonggok’.

Hikmah besar di balik ‘kepelitan’ mereka untuk tidak selalu memberikan apa saja yang kami minta; kami belajar menghargai apa saja yang mereka berikan. Kami masih menyimpan boneka yang Ummi belikan ketika kami masih kecil. Jarang-jarang kan Ummi belikan kami boneka? Jadi begitu Ummi memberikan boneka pada kami, boneka itu kami jaga baik-baik. Kami pajang di lemari. Begitu juga buku-buku dari masa kecil kami. Belakangan, kami sumbangkan buku-buku itu untuk taman bacaan dekat rumah.

Bukan hanya pemberian berupa barang, tapi juga momen-momen bepergian yang jarang kami lakukan. Sekalinya kami pergi bersama, walau itu hanya makan bersama di warung tenda pinggir jalan, kami benar-benar menikmatinya dan mengabadikannya dengan cara kami. Yang rajin menulis buku harian, menulis di buku hariannya. Yang senang menggambar, menggambarkan apa saja yang dilihatnya selama pergi bersama.

Coba kalau orangtua kami ‘murah hati’. Kami nangis sedikit, maka datanglah apa yang kami minta. Bisa jadi lambat-laun kami tidak menghargai apa-apa yang orangtua kami berikan karena saking seringnya menerima pemberian dari orangtua kami. Alih-alih berterimakasih, mungkin kami akan protes; “lho kok yang begini? Kan aku minta yang begitu!”. Dengan selektifnya orang tua kami dalam memberikan sesuatu, secara tak langsung kami belajar bagaimana harus berterimakasih dan menghargai pemberian orang lain.

Selain itu, ke-konsisten-an mereka untuk menolak membelikan sesuatu yang manfaatnya kecil, membuat kami belajar setiap kali ada benda yang kami inginkan. Kami belajar menganalisis sendiri, apakah benda itu kemudian layak kami miliki? Kalau tidak, sudahlah lupakan benda itu.

Lalu, adakah kemudian di saat dewasa dan punya penghasilan sendiri, saya dendam untuk memiliki benda-benda yang tak sempat saya miliki di waktu kecil? Untungnya tidak. Sebabnya karena itu tadi, kami senantiasa diajak menganalisis; apakah benda yang saya inginkan ini bermanfaat? Bahkan sampai sekarang, kalau saya punya uang sendiri dan mau beli sesuatu, Ummi pasti menodong dengan pertanyaan; buat apa?

Pernah juga terbersit; Kok Ummi gitu sih? Selalu tanya buat apa. Ini kan uangku sendiri!

Tapi entah bagaimana, ujung-ujungnya saya berpikir ulang; apa manfaat benda itu untuk saya? Dan urung untuk membeli benda tidak penting itu. Mungkin karena saking kuatnya doa Ummi, sampai-sampai saya selalu tidak bisa membantah apa kata Ummi. Walau awalnya membantah, selalu saja berakhir dengan gumaman pada diri sendiri; iya ya, bener juga.

***

Karena kami keluarga sederhana, imbasnya bukan saja susah kalau mau meminta sesuatu. Tapi juga berimbas dari desain rumah kami yang sederhana. Ruangan yang disekat hanya kamar tidur dan kamar mandi. Ruang tamu, ruang tengah, ruang makan menyatu tanpa sekat. Tidak ada lantai dua. Kamar pun hanya tiga; kamar orangtua, kamar anak perempuan, dan kamar anak laki-laki. Tagline untuk rumah kami; ke kanan nyenggol, ke kiri nyenggol.

Hikmahnya punya rumah dengan desain nge-blong begini adalah adanya kontrol yang maksimal di antara anggota keluarga. Kalau ada satu anak yang lagi suram, seisi rumah akan segera tahu karena pas sembunyi di kamar, eh saudara yang lain masuk kamar (yang memang nggak ada kuncinya) terus melihat saudaranya yang satu ini lagi menangis. Melaporlah si saudara yang lain ini pada Ummi; “Mi, Kak Anu nangis di kamar…” Nanti kata Ummi; “Husss… udah diemin dulu…”

Walaupun begitu, Ummi dan Abi menghargai privasi kami. Mereka tidak pernah membuka-buka laci kami tanpa keperluan. Mereka percaya sekali, bahwa satu sama lain di antara kami akan saling mengingatkan kalau misalnya ada suatu barang yang bermasalah. Kan kalau barang itu disembunyikan, artinya barang itu bermasalah. Misalnya saja saya menyembunyikan coklat. Tidak perlu menunggu besok, adik saya yang lain sudah akan menemukannya di hari yang sama. Dan coklat itu memang barang yang bermasalah karena tidak dibagi.

Masih soal kontrol di antara anggota keluarga, semua ruangan yang bermuara di ruang tengah ini juga membawa keuntungan tersendiri bagi Ummi dan Abi. Mereka jadi mudah mengontrol aktivitas kami. Cukup duduk di ruang tengah, maka akan terlihat si Asiah lagi apa, Rufaida lagi apa, Hania lagi apa, dan yang lainnya. Selain itu, juga jadi mudah melihat siapa yang sudah sesore ini belum pulang ke rumah.

Sosialisasi pun tak perlu membuang energi banyak. Misalnya, merutinkan mengaji setiap habis maghrib. Tak perlu menggedor setiap pintu kamar sambil bilang: “hoi, ngaji!”. Sekali lagi, duduklah Ummi di ruang tengah sambil bilang; “ayo, ayo ngaji…” kemudian Ummi dan Abi mengaji di ruang tengah. Yang tadinya urung mengaji, jadi malu sendiri karena seisi rumah mengaji. Begitu juga kebiasaan berdiskusi di rumah kami. Ummi dan Abi jarang berdiskusi hanya berdua di kamar—kecuali kalau hal yang mereka diskusikan bukan menjadi urusan kami. Mereka terbiasa membaca buku, menghafal Qur’an, hadits, juga berdiskusi—dari soal agama, politik, sosial, sampai ekonomi—di ruang tengah. Mau tak mau, kami jadi ikut mendengar dan terbiasa dengan iklim itu.

Abi dan Ummi juga biasa menceritakan apa yang mereka alami hari itu kepada kami semua. Walau mungkin sebenarnya menceritakannya hanya kepada Abi atau Ummi. Tapi apa mau dikata, mereka bercerita di ruang tengah. Kami juga jadi ikut-ikut dengar, lalu nimbrung, lalu ikut-ikutan bercerita. Lama-lama kami pun biasa saling bertukar pengalaman di ruang tengah. Entah sambil makan, atau sambil belajar.

Orangtua kami tidak memaksakan terbangunnya suasana akrab. Mereka tidak memaksa diri mereka untuk nyambung dengan dunia kami. Suasana akrab itu terbangun karena kebiasaan yang sudah lama dibiasakan sejak kami masih kecil; saling terbuka dan bercerita. Rasanya kok aneh saja kalau tidak cerita ke Ummi. Sehingga keresahan-keresahan yang kami rasakan—terlebih yang berhubungan dengan identitas kami sebagai muslim/ah yang mencoba ber-Islam secara kaffah—akan tercetus begitu saja, tanpa perlu ragu menceritakannya pada orangtua.

***

Kalau memutar kembali memori, sepertinya orangtua kami tidak terlalu repot menjebloskan kami untuk aktif dalam tarbiyah. Pemahaman kami akan pentingnya tarbiyah, tidak dipupuk dalam sehari langsung jadi. Di rumah sederhana kami, permasalahan ummat menjadi tema diskusi asyik. Dari diskusi ke diskusi, kesadaran kami akan pentingnya tarbiyah menjadi tumbuh sendiri. Pada awalnya malas datang ke tempat liqo. Kan bisa belajar aja sama Ummi, bantah kami. Tapi Ummi bilang, di rumah belajar juga, di luar belajar lebih banyak lagi. Tidak tanggung-tanggung, saya dan Milla sempat merasakan bagaimana Abi benar-benar amat memaksa kami sampai-sampai kami diantar ke tempat liqo, dan ditunggui pula sampai liqo selesai.

Kesannya, Abi kok kayak ga punya kerjaan lain aja selain nganterin anak liqo dan nungguin. Tapi pemaksaan serupa itu, membuat kami mencerna sendiri; berarti liqo itu emang penting banget ya, sampe-sampe Abi mau nganter dan nungguin aku…

Kami juga tidak lepas dari badai keinginan ingin pakai celana panjang dan jilbab agak naik sedikit. Keresahan itu kami ungkapkan pada Ummi; “kok si Anu pakai bajunya begitu, Mi. Aku boleh ga pakai baju kayak dia? Abis kemaren aku ke sekolah pakai rok dibilangnya kayak ibu-ibu…”

Nah lho… kalo saya jadi Ummi, saya bingung juga mau nasehatin kayak apa.

Ummi pada awalnya membolehkan kami memakai celana panjang asal longgar. Jilbab juga yang penting menutup dada, tidak perlu sampai lewat pinggang. Tapi kok ya baju yang dibelikan Ummi pada kami lagi-lagi rok. Ya apa boleh buat. Toh roknya juga not bad kok. Dan Ummi sekali waktu bilang: “perempuan itu lebih anggun tau kalo pake rok…” agak membesarkan hati sedikit. Tapi kemudian di sekolah, dikomentarin teman lagi: “Perasaan lo pake rok terus deh, sekali-kali dong pake celana panjang… gue pengen deh liat penampilan lo pake celana panjang…”

Komentar teman seperti di atas selalu bikin ciut. Untung kami punya Ummi. Lagi-lagi lapor ke Ummi, teman komentar begini, begitu. Ummi akan bilang: “ga usah didengar… Mereka memang selalu berkomentar. Orang itu kalau mau jadi lebih baik memang cobaannya banyak. Kalau kamu ciut hanya karena komentar begitu, sekarang bayangin jaman dulu waktu jilbab belum zamannya, perempuan yang pakai jilbab dijauhi orang, disangka aliran sesat, bahkan ada yang diusir dari rumah… Padahal perintah pakai jilbab itu ada di Al Qur’an, tapi malah dihina…”

Cerita-cerita itu membuat kami merasa tidak sendiri. Lagipula, kami biasa berbeda. Kami tidak tinggal di tengah-tengah keluarga tarbiyah yang lain. Kami tinggal di kampung yang tingkat pendidikan masyarakatnya rendah sampai-sampai anak kecil diajarkan buang air di kebun-kebun. Sampai-sampai pula, keluarga kami dicap orang Muhammadiyah yang kalo mens pun perempuan tetap sholat, dan kalau ada yang meninggal tidak disholatkan. What? Kayaknya orang Muhammadiyah ga gitu deh…

Jadi, menjadi berbeda di sekolah atau di antara teman sepermainan, adalah menambah sedikit daftar perbedaan kami. Orangtua selalu membesarkan hati kami lewat cerita dan diskusi. Bahwa menjadi berbeda itu sama sekali tidak buruk. Untungnya, nasehat ini tidak serta merta muncul ketika kami puber, di mana kami sudah kenal ‘dunia luar’. Mungkin karena Ummi saya tidak sibuk, dan Abi juga tidak sibuk dalam pekerjaan, jadi kami tidak mengalami missing age di mana ada kalanya kami jauh dari Ummi dan Abi. Mereka benar-benar orang terdekat kami dan teman sejati kami; orang-orang pertama yang kami hampiri ketika ada keresahan dan pertanyaan. Dan saya yakin betul, kedekatan ini tidak dibangun dalam hitungan hari, tapi hitungan tahun; sejak saya masih kecil, hingga kini umur saya menginjak 24 tahun.

***

Tidak ada hal khusus yang diterapkan orangtua kami untuk mendidik kami. Tidak ada buku parenting bertumpuk-tumpuk. Mereka tidak hapal teori psikologi pendidikan. Bahkan mungkin tidak tahu juga ada teori itu. Mereka juga tidak rajin ikut seminar-seminar parenting. Mereka terlampau sederhana untuk itu semua. Mereka mendidik kami dengan ilmu yang mereka punya ditambah dua hal saja: kontinyu dan konsisten. Kontinyu dalam hal mengingatkan, menasehati, dan mencontohkan. Konsisten dalam hal sekali bilang tidak maka tidak; tidak ada prinsip yang berubah.

Seperti matahari pada gugusan bima sakti, mereka terus menyinari, terus menjadi pusat kehidupan kami, tak bosan, tak lelah.

www.islamedia.web.id

Sabtu, 25 Juni 2011

pelayan rakyat......

0 komentar


Beberapa tahun sudah negri ini melewati masa kebebasan dari sebuah cengkraman para penjajah,ini adalah sebuah anugrah dan nikmat dari tuhan yang patutu kita nikmati dan syukuri,akan tetapi dalam menapaki perjalanan beberapa tahun, bangsa ini masih mengalami jatuh bangun dan masih dalam kondisi keterpurukan.pertama kemiskinan merajalela,pengangguran semakin tahun semakin banyak jumlah nya,anak-anak pun mulai terancam terputus sekolah.padahal siapa yang tidak tahu akan kekayaan bangsa ini,tuhan memberikan sebongkah surga di sini,hamparaan sumber daya alam yang melimpah dari mulai bahari,tambang dan lain-lain nya ,semua tuhan sediakan begitu saja.lantas kenapa bangsa ini masih belum mampu dalam menata kesejahteraan masyarakat nya.
Semua ini adalah damapak dan akibat dari sifat tanggung jawab yang masih jarang di miliki oleh para pemimpin negri ini,belum lagi ditambah dengan sifat tamak dan rakus akan jabatan ,harta dan kekuasaan menambah muram wajah negri ini.dari muali kasus century,BLBI,cek pemilihan gubernur BI dan kasus pembangunan sarana atlet ini menjadi bukti bahwa sifat tanggung jawab itu belum sepenuh nya dimiliki,rasa dan sifat melayanipara pemimpin belum melekat di hati.
Sebenar nya banyak sekali tinta emas sejarah yang mengajarkan pemimpin negri ini untuk menumbuh kan sifat tanggung jawab  dan ke ikhlasan sepenuh nya dalam melayani, pertama pemimpin negri ini harus belajar pada seorang umar bin khotob yang pada masa kepemimpinana nya belaia selalu berkeliling keluar rumah pada malam hari mengontrol kondisi masyarakat nya,apakah ada yang kelaparaan atau ada yang di butuhkan bahakan di keluhkan ,beliau selalu sigap dalam hal melayani,belaiau tidak ingin tidur nyenyak dengan perut kenyang sebelummemastikan kondisi masyarakat di sekitar ,sampai-sampai ketika padas uatu malam iamenemukan satu keluarga yang dalam kondisi lapar,belaiau langsung yang menggangkat gandum dengan punggung nya dan sangat menyesali kelalaian nya tersebut.
Selaian dari umar pemimpin negri ini juga bisa mengambil pelajaraan  dari seoarang  pemimpin presiden masa ini,seorang ahmad di nejad presiden republik islam iran,dengan kesedarhanaan dan kezuhudan ia mampu bertahaan di hati para konsekwen nya.bahakan pada suatu diskusi dengan mahasiswa –mahasiswi iran pada masa itu ada sebuah pertayaan yang di tujukan kepada beliau “kenapa anda berpenampilan tidak sepertihal nya seorang presiden,danlebih cocok maaf  sebagai pembantu”maka dengan santai dan tenang beliau menjawab saya adalah seorang pelayaan untuk masyarakat iran dan tugas saya adalah melayani,melayani dan melayani jadi secara kasar ny juga saya bisa di katakan sebagai pembantu untuk negara iran ini.dari keduapemimpin tersebut kita dapat menemukan benang merah sekalipun merekan hidup dijaman yang berbeda yaitu tentang konsep melayani dan tanggung jawab ,ini semua patut di tiru oleh pemimpin dan para calon pemimpin akan arti sebuah kepemimpinaan yang sebenar nya memahami tangung jawab .
Jalan negri ini masih panjang dan masih banyak harapan-harapan yang kita punya untuk menjadi sebuah bangsa yang besar dan maju dengan kepemimpinaan yang bermodalkan akhlaq dan tanggung jawab.

Jumat, 24 Juni 2011

kasih tak sampai

0 komentar
Cinta adalah sebuah anugrah yang di berikan ALLAH sang maha pemiliki cinta sejati,jangan pernah salahkan orang yang sedang jatuh cinta atau mabuk kedalam cinta,mereka adalah seorang teman yang harus di temani agar tidak terlalu takut dan mati dalam lobang cinta,seperti seorang qais yang mati karena laila si majnun dan siti nurbaya yang harus merelakan mengorbankan nyawa nya karena cinta karena syaiful bahri ,romeo dan juliet,ya begitulah cinta meyihir orang-orang   menjadi hamba-hamba cinta, bahkan  cinta dapat merubah penjara menjadi telaga dan merubah debu menjadi sebuah permata yang indah.
Lantas bagaimana jika sebuah cinta di bangun atas dasar sejuta persammaan dan 1 perbedaan
Dalamhal ini adalah fikroh(pemikiran)atau organisasi yang bersebrangan padahal di lain sisi penuh dengan rasa sejutau arah yang sama”.seperti kisah seperti ini........................T_^....................!!!!!
“dalam sebuah percakapan telepon  seorang ikhwan berkata”ukhty tak terasa tinggal beberapa minggu ini kita akan melaksanakan perintah ALLAH dan sunnah dari rosullulah untuk menyempurnakan agama,cincin yang melingkar di jari mu akan menjadi saksi cinta kita di hadapan ALLAH sang maha cinta”sang ukhty pun menjawab”iya ,namun ada yang begitu menggagu akhi  kita sama-sama mentranformasi pemikiraan dari timur tengah  engkau mentransformasi pemikiran hasan al-banna sedangkan aku mentansformasi pandangan seorang taqiyudin an-nabhani apa kah engkau masih yakin dengan semua ini,secara manusiawi aku cinta pada mu .jika kira nya engkau mau aku ingin seorang suami ku kelak satu pola pemikiraan dengan ku.mendengar itu terasa tersengat petir yang teramat dahsyat,sehingga tak terasa keluar setetes air deri sela-sela mata sang ikhwan,begitu pula pada si ukhty yang begitu berat mengucapkan itu kepadasi ikhwan ,dalam sebuah halaqoh sang ikhwan terus di hibur oleh teman dan murobi nya”akhi sadar kah engkau kembang bukan hanya setaman,masih banyak bunga –bunga bermekaran di sekeliling mu yang sama warna nya dengan mu,yakin lah bahwa jodoh mu kelak ada lah orang yang tidak jauh dari potret diri mu saat ini,mendung terasa di hati si ukhty menatap cincin yang melingkar di jari nya,namun apalah pemikiran yang ditanam sejak pertama kali berdakwah adalah seprti itu,...............(no ending)

Bagaimana pendapat anda tentang ini semua,terserah anda nenilai nya dan ini lah kenyattaan terjadi di sini,tak pernah ada yang menyalahkan mereka untuk mentransformasi pemiiran dari timur tengah,tapi jangan kita impor juga konflik di antara mereka
sahabat ingat slogan sebuah minuman “apa pun makanan nya minumnya teh botol sosro”
bisa juga kita pakai apapun harokah nya islam lah agama nya”


astagfirulloh
cukupppp,,..sudah,,,KOK jd bicara kan yang nggak genah... heheh
asalamualikum,.,.,.,nggak ada kelanjutan nya T_T
(  NJ

Rabu, 22 Juni 2011

Agar semangat terus mengelora.......

1 komentar
http://beritapks.com/wp-content/uploads/2011/05/mukhayyam-300x225.jpg
Dikala Semangat (hamasah) Dakwah menggelora didalam jiwa , segala yang sulit akan terasa mudah, yang jauh akan terasa dekat, yang berat akan terasa ringan, bahkan setiap ujian yang datang akan menjadi ajang pendewasaan, Semangat itu seperti air yang terus mengalir sepanjang waktu laksana matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi , jika dihalangi maka air itu akan mencari celah untuk tetap bergerak , jika dibendung ia akan naik meluap keatas lalu kembali mengalir,jika di tekan maka ia akan muncrat, berpencar bahkan dapat menghancurkan wadah tempat dimana ia dikumpulkan.SyaikhutTarbiyah ,Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah pernah menuliskan dalam butir- butir taujihnya gambaran tentang semangat perjuangan :

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu


Begitulah jika semangat dakwah menggelora dalam jiwa, meskipun banyak fitnah datang menghadang, upaya makar yang dilakukan oleh musuh –musuh dakwah tak akan sanggup menghentikan derap langkah perjuangan .Lalu bagaimanakah meria’yah (merawat) semangat yang telah ada agar tak berubah?

Download

0 komentar

Followers

 

Celoteh Bebas. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com