Senin, 31 Oktober 2011

kenapa harus menikah?????

0 komentar

Sahabat ,jika dalam halaman  awal kita telah  berbicara arti dan makna tentang pernikahan,dan kita telah menemukan  sebuah titik terang ,bahwa menikah adalah salah satu   jalan  atau sarana untuk mendekatkan diri kita dengan ALLAH dalam arti lain beribadah kepada nya adabeberapa point penting yang harus kita untuk menepis keragu-raguan terhadap diri kita.
Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa menumbuhkan minat anda dan menambah koleksi pengetahuan kita tentang dunia pernikahaan
Pertama menikah adalah salah satu  bentuk melengkapi agama,sebagai mana yang telah di katakana rasul nabi Muhammad dalam sebuah hadits nya mengatakan : “Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim)
Yang kedua adalah menjaga kehormatan diri,sahabat tidak bisa di pungkiri bahwa kita sebagai manusia biasa ,pastilah memiliki nafsu dan terkadang nafsu itu mendapat dukungan dari musuh abadi sepanjang zaman yaitu setan,dengan menikah kita bisa menghindari diri kita dari tindakan-tindakan yang di larang ALLAH sekaligus kita dapat lebih menjaga dirikita dari tindakan yang bertentangan dengan syariat ALLAH seperti pacaran atau berkhalwat dengan lawan jenis .oleh sebab itu dalam sebuah hadits rosul menekan kan kepada kita kaum muda untuk menyegerahi ibadah yang satu ini“Wahai para pemuda! “Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
Yang ketiga penting kita ketahui bahwa senda gurau suami-istrie bukan lah perbuatan sia-sia loh,,Berikut hadits nya “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah
Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?” (Mereka menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda,) “Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.” (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, “Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua raka’at Dhuha.”) (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik
“Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya? Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?

8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah.” (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?” Beliau menjawab dengan bersabda, “Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka.” (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus diberi belanja.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga). Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.” (Saba’: 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.” Dan yang lain berdoa: “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).


9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara anak yatim


Janji Allah berupa pertolongan-Nya bagi mereka yang menikah.
1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)



refrensi : fiqih pernikahan dan artikel
Chandraleka, 06 Desember 2004


”ARTI PERNIKAHAAN”

0 komentar

“Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).
Sahabat Jika ada yang berpendapat  Menikah adalah bertambah nya beban dalam hidup,apa kah antum setuju????
Alas an nya dikarenakan setelah menikah ,sesorang harus berbagi beban dengan pasangan nya,memikirkan masa depan anak nya,dan harus memiliki keturunan dan harus  terikat satu sama lain tanpa ada nya kebebasaan dalam melakukan hubungan dengan yang lain.
Jika ada yang berpendapat bahwa menikah adalah suatu jalan melegalkan jalilnan tali asmara yang selama ini terbangun(pacaran),apakah antum sepakat?
Alas an nya sudah lama melakukan HTI(hubungan tanpa status)alias pacaran  dan dari pada melakukan kesalahan-kesalahan yang lebih besar alias Zina ,mending menikah saja,dan menikah dalam pendapat ini menikah hanya sebagai penyatuan hati saja.
Apa pun pendapat orang lain, dalam memandang arti dari sebuah makna pernikahaan,yang jelas sebagai seorang muslim yang taat , maka sebuah pernikahan harus dimaknai sebagai sarana dan motivasi untuk beriibadah kepada ALLAH SWT . Dan seharus nya juga menikah adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada ALLAH SWT. Menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Menikah adalah bagian dari idealisme untuk memakmurkan bumi dengan keturunan yang dapat menegakkan kalimah Tuhan.perlu di garis bawahi yach,menikah sebagai bagian dari idealisme untuk menegakan kalimah ALLAH  terkadang terlalalu dipandang sempit oleh sebagian orang baik pria maupun wanita dalam contoh kasus seperti ini:
Seorang mengirim pesanmelalui inbox FB  ”ukht,ana ada niat untuk meminta antum sebagai pendamping hidup ana pada orang tua antum  ?  ”Jawab sang akhwat ”afwan akhi tidak usah ,sekalipun ana secara tidak langsung meninginkan antum sebagai suami ana,namun ana masih harus berfikir panjang,sebab ana ingin sekali mempunyai imam  yang se haroki dengan ana,pejuang khilafah,sedangkan antum,masih aktif di dakwah TARBIYAH..Afwan akhi KITA BERBEDA.
Menikah bukan lah urusan sefikroh ataupu seharokah ,namun menikah adalah urusan beribadah kepada ALLAH.jadi pandangan sempit tentang pernikahaan  seharaki dan se-fikrah bukan wajib hukumnya.seperti yang selalam ini menjadi kesalahan berfikir sebagian muslim.
Jadi sahabat jika umur kita sudah cukup dan sudah mempunya kemapanan yang mantab.maka sudah saat nya kita merancang  masa depan kita bersama bidadari yang akan menjadi pelipur lara dan pelepas dahaga di rumah kita.dengan niatan suci murni hanya karena ALLAH saja lah kita menikah tanpa ada motif-motif lain.jika memang belum mampu maka berpuasa lah untuk menahan hawa nafsu kemudian berdoa kepada ALLAH semoga ALLAH memberikan wanita bidadari solehah yang akan menjadi madrasah untuk mengajari dan mendidik mujahidin kecil kita kelak.
” Perbaiki diri untuk menjemput bidadari suci ”

Rabu, 26 Oktober 2011

0 komentar

Jodohku Di Tangan Pembinaku


39
"Sah ya?"

"Saaah!!!"

Hepi tersenyum sumringah. Ia mengulurkan tangan kepada orang yang ada di depannya yang baru saja membeli kambing kurbannya. Si pembeli menyambut tangan Hepi. Mereka berjabat tangan, erat.

"Ngomong-ngomong, ente sendiri kurban gak Hep?" Si pembeli bertanya.

"Pengennya sih gitu... Ada sih uang, tapi buat keperluan laen yang gak kalah mendesak."

"Wuiih.. keperluan apaan tuh? Emang keperluannya bisa ngalahin keutamaan berkurban."

"Insya Allah begitu.. Kurban kan sunnah muakaddah. Kalo yang ini... Bisa dikatakan wajib lah.."

"Oke deh. Semoga urusannya dipermudah Allah."

"Amiin.. Amiin ya Robbal'alamiin..." Hepi mengaminkan dengan penuh penghayatan.

Si pembeli berlalu. Ia adalah pembeli kambing kurban ke-empat yang Hepi dapatkan semenjak seminggu yang lalu ia mengedarkan brosur hewan kurban kepada orang-orang yang dikenalnya. Hepi benar-benar senang luar biasa. Terbayang uang tabungannya yang ia persiapkan untuk menikah sudah bertambah. Dan muncul pula rasa optimis bahwa ia sudah memiliki pekerjaan yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya kelak bila ia menikah. Hepi senang, yakin, dan bertambah semangat.

Sejak enam bulan yang lalu Hepi mulai merintis berbagai usaha dan mulai mengumpulkan uang. Tujuannya hanya satu: menikah. Hepi yang sedang kuliah semester 6 merasa sudah saatnya ia menikah. Selain karena ia sudah memasuki usia aqil baligh, ia juga merasa sudah menemukan jodoh yang tepat untuk dinikahi.

Adalah Nita, seorang aktifis Rohis Kampus yang menjabat ketua keputrian yang menyebabkan Hepi bertekad bulat untuk menikah. Perasaan suka di hati Hepi sudah mulai tumbuh sejak satu setengah tahun yang lalu. Sosok Nita memang mudah membuat laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan itu yang terjadi pada Hepi ketika melihat Nita yang saat itu masih menjabat sebagai sekretaris Departemen Keputrian melakukan presentasi program kerja di sebuah acara Rapat Kerja kepengurusan baru.

Setelah jatuh cinta pada pandangan pertama itu, mulanya Hepi tidak terlalu menuruti perasaan yang aneh pada dirinya. Tapi beberapa kali pertemuan dan beberapa interaksi membuat kekagumannya bertambah. Posisi Hepi di Organisasi Rohani Islam Kampus sebagai anggota Departemen Syiar memang sering berurusan dengan Nita bila ada agenda Keputrian yang akan melaksanakan acara dalam skala besar. Syuro-syuro kecil yang cuma dihadiri oleh beberapa orang, hingga syuro agak besar yang melibatkan beberapa department, memberikan bayangan kepada Hepi seperti apa sosok Nita itu. Dan makin hari makin bulat tekad Hepi untuk hidup berdampingan bersama Nita.

Hingga enam bulan yang lalu, setelah Hepi mengikuti “Dauroh Pra Nikah”, sebuah training persiapan pernikahan untuk mereka yang akan melaksanakannya, Hepi memutuskan untuk memulai mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menikah. Tabungan, pekerjaan, penghasilan, ilmu, semuanya ia kejar. Ia kumpulkan buku-buku pernikahan, walau pun membeli dari sebuah toko buku loak yang ada di belakang kampusnya.

Di kajian pekanan yang dibina oleh Imran, seorang alumni yang pernah menjabat sebagai Ketua Rohis periode tiga tahun yang lalu, Hepi memberanikan diri mengangkat tema-tema pernikahan. Hepi tahu, kakak pembinanya itu belum menikah. Tapi Imran tetap meladeni diskusinya. Bahkan Hepi menantang Imran untuk berlomba adu cepat siapa yang lebih dulu menikah. Saat tantangan itu dilontarkan, dengan sedikit tertawa, Imran yang sudah bekerja mapan di sebuah Bank Syariah menyanggupi tantangan Hepi.

Tapi Hepi tidak pernah menceritakan kepada Imran tentang ketertarikannya dengan Nita. Ia hanya berharap suatu saat Imran memudahkan permintaannya untuk ber-ta’aruf dengan Nita bila saatnya tiba, dan tidak memberatkannya dengan pertimbangan yang aneh-aneh. Hepi agak khawatir saat beberapa teman tempat curhatnya menyinggung masalah “sekufu’”, dalam artian Hepi tidak sekufu’ atau tidak cocok dengan Nita. Bukan masalah keturunan, bukan masalah harta kekayaan, atau pun kecerdasan, tetapi masalah tampang. Untuk masalah ini, Hepi tak bisa berbuat apa-apa karena dari sananya cetakannya sudah seperti itu. Ia berharap bisa berproses tanpa terganggu selisih tampang yang timpang.

*****

Hepi berjalan menelusuri jalan setapak yang mengantarkannya pada sebuah peternakan di pinggir kota, di sore yang terik saat matahari bebas melempar cahayanya ke bumi tanpa penghalang. Peternakan Haji Yamin, di sana Hepi punya investasi berupa empat ekor kambing dan sepetak kolam yang berisi puluhan ikan Lele. Investasi itu rutin mengalirkan uang kepadanya tiap bulan dengan sistem bagi hasil dengan pemilik peternakan.

Di depan pintu gerbang peternakan, ada sebuah pos tempat petugas keamanan berjaga. Di sana sedang duduk seorang seumuran Hepi sembari membaca sebuah buku. Hepi melontarkan salam kepada orang itu.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam. Eh Hepi… sudah laku berapa?” Orang itu menjawab salam dan menyambut Hepi dengan pertanyaan.

“Alhamdulillah udah dapat enam pembeli. Sendirian aja, Wal?” Hepi memasuki ruangan pos jaga, menyeret sebuah bangku, dan duduk di samping Awal, orang yang disapanya.

“Iya… Lagi baca buku tentang nikah. Gak mau kalah sama ente. Hehehe…”
“Haha… Awaal.. Awal… Mau nikah sama siapa? Udah ada calon? Jangan-jangan kita ngincer orang yang sama lagi…” Hepi cengengesan.

“Santai aja Hep. Ane cukup tau diri untuk ngejer-ngejer Nita. Emangnya ente? Modal nekat doang.” Awal mengambil sebuah gelas kosong di atas meja di depannya, lalu menuangkan air ke gelas itu dari sebuah teko. “Minum Hep!” Tawar Awal.

Hepi yang haus langsung menghabiskan air dari gelas itu.

“Enak aja nekat. Investasi ane ini adalah modal buat berumah tangga. Bukan modal nekat.” Ujar Hepi setelah dahaganya sembuh.

“Haha… Kalo cuma modal ternak, ane udah dari dulu nikah dong. Ente aja yang cuma investasi di peternakan Abah ane berani nikah, masa’ ane enggak.”

“Nah, tuh nyadar. Emang kenapa belum mau nikah? Modal harta udah ada.”

“Entar deh. Belum punya ilmu.”

“Alasan ih… Makanya banyak baca dong. Kalo masalah ilmu mah… kita akan selalu merasa kekurangan.”

“Ente udah banyak baca buku nikah kan Hep? Udah siap dari sisi ilmu?”

Hepi mengangguk. “Ya Insya Allah begitu.”

“Coba sebutin rukun nikah!” Tertawa kecil, Awal menguji Hepi.

Hepi gelagapan. “Mempelai pria, wanita, wali, penghulu dari KUA, saksi…”

Awal tertawa terbahak-bahak. “Ngawur ya.. Sejak kapan petugas pencatat nikah masuk jadi rukun nikah? Ah payah niiih… katanya udah siap dari sisi ilmu?”

“Ya setidaknya di Negara kita kalo mau nikah kan harus ada petugas pencatat nikah dari KUA. Hepi tersipu.”

“Maaf Hep.. Ane gak yakin ente diperbolehin nikah sama Bang Imran. Ente belum siap deh Hep.”

Awal dan Hepi berada pada satu kelompok kajian pekanan yang sama di bawah binaan Imran. Awal juga anggota Rohani Islam. Ia menjabat sebagai Bendahara.

“Jangan gitu Wal. Jangan nakut-nakutin. Untuk masalah jodoh, ana gak mau diatur-atur. Walau pun sama orang tua. Apalagi cuma sama Bang Imran.”

“Kalau Bang Imran gak mau memperantarai ente untuk ta’aruf dengan Nita, gimana?”

“Ane nekat aja, langsung ngajak Nita ta’aruf. Gak pake perantara-perantaraan.”

Awal mengangguk. Hening sesaat di antara mereka.

“Hep, mau mendengarkan nasehat ane?”

“Mau insya Allah. Kalo gak mau, berarti hati ane udah mati.”

“Kalau antum meniatkan pernikahan itu sebagai ibadah, maka antum gak akan masalah walau pun menikah bukan dengan Nita. Karena fokus ibadahnya bukan pada menikahi Nita, tapi pada menikahnya itu sendiri. Keikhlasan antum menikah karena Allah itu diuji saat antum gagal menikah dengan Nita. Kalau antum ikhlas, maka antum gak akan kecewa karena masih banyak kesempatan. Tapi kalau antum kecewa berat, maka niat antum adalah cuma mau menyenangkan diri dengan menikah dengan Nita, bukan sebagai penghambaan kepada Allah. Begitu Hep.”

Mereka berdua diam. Hepi termenung seperti mencerna kata-kata Awal.

“Memang berat bicara niat kalau sudah terlanjur punya pilihan.” UjarHepi.

“Ana gak mempermasalahkan ente punya pilihan. Tapi jangan sampai pilihan itu menutupi niat karena Allah. Ah… susah kalau bicara niat. Terlalu filosofis jadinya.”

“Iya Wal.. iya…”

“Mudah-mudahan ente gak kecewa, Hep.” Awal tertawa.

“Lho, kenapa Wal? Ente yakin Bang Imran akan menolak permintaan ana? Jangan-jangan ente cuma menggertak, karena ente juga ngincer Nita kan?”

“Bukan. Ya… ada lah… liat aja nanti.” Awal menyembunyikan sesuatu.

Saat matahari makin terperosok ke ufuk barat dan mendekati waktu maghrib, kedua sahabat itu beranjak ke kampusnya. Ada jadwal kajian pekanan malam itu di Masjid Kampus. Dan Hepi sudah bertekad bulat menyampaikan keinginannya ta’aruf dengan Nita kepada Bang Imran.

*****

Kajian pekanan malam itu sudah mulai berakhir saat Imran memimpin doa penutup majelis. Sembari mencicipi makanan yang terhidang di tengah lingkaran, delapan orang peserta kajian bercakap-cakap. Hepi semakin berdebar jantungnya menanti saat yang tepat untuk meminta kepada Bang Imran untuk berbicara empat mata.

“Ikhwan fillah, ada yang mau ana sampaikan.” Ujar Imran menyela percakapan mereka.

“Apa Bang?” Tanya salah seorang dari mereka.

“Yah, ana punya ini…” Imran mengeluarkan beberapa buah undangan yang terbungkus rapi dengan plastik. Dibagikan undangan itu kemasing-masing anak. Mereka membuka undangan itu tak sabar. Termasuk Hepi. Sebuah undangan pernikahan.

“Afwan Hep. Untuk masalah nikah, ana menang dari antum ya… Ana menikah duluan. Diizinin ya Hep?” Imran tertawa menggoda.

“Insya Allah, bang. Barakallah.” Jawab Hepi. Berbisik dalam hati, Hepi berkata, “Kalahnya gak telak kok Bang. Ana juga bentar lagi bakal nikah dengan…. Nita.”

Belum sempat Hepi membuka undangan dan melihat dengan siapa Imran menikah, suara gemuruh di masjid yang sepi itu bergema dari anak-anak pengajian.

“Dengan siapa?” Hepi membatin dan makin penasaran. Dan saat ia membaca naskah undangan itu, terasa sesak di hatinya saat melihat nama Renita Kusuma terpampang di undangan itu. “Nita...” Ujarnya membisik.

Sebuah tepukan mendarat di pundak Hepi. “Ana udah tau duluan Hep. Mudah-mudahan kata-kata ana tadi sore bisa menguatkan antum.” Suara milik Awal.

Hati Hepi tak karuan. Gemuruh… dan mendung…

source: islamedia






Sabtu, 24 September 2011

Mata Air Keluhuran

0 komentar

Oleh : M. Anis Matta,Lc.

Galau benar hati sang raja. Putra mahkotanya ternyata seorang pemuda pemalas. Apatis. Talenta raja – raja tidak terlihat dalam pribadinya. Suatu saat sang raja menemukan cara mengubah pribadi putranya : the power of love.
Sang raja mendatangkan gadis – gadis cantik ke istananya. Istana pun seketika berubah jadi taman : semua bunga mekar disana. Dan terjadilah itu. Sesuatu yang memang ia harapkan : putranya jatuh cinta pada salah seorang diantara mereka. Tapi kepada gadis itu sang raja berpesan, “Kalau putraku menyatakan cinta padamu, bilang padanya, “Aku tidak cocok untukmu. Aku hanya cocok untuk seorang raja atau seseorang yang berbakat jadi raja”.
Benar saja. Putra mahkota itu seketika tertantang. Maka iapun belajar. Ia mempelajari segala hal yang harus diketahui seorang raja. Ia melatih dirinya untuk menjadi raja. Dan seketika talenta raja – raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata. Tapi karena cinta.
Cinta telah bekerja dalam jiwa anak itu secara sempurna. Selalu begitu : menggali tanah jiwa manusia, sampai alam, dan terus ke dalam, sampai bertemu mata air keluhurannya. Maka meledaklah potensi kebaikan dan keluhuran dalam dirinya. Dan mengalirlah dari mata air keluhuran itu sungai – sungai kebaikan kepada semua yang ada di sekelilingnya. Deras. Sederas arus sungai yang membanjir, desak mendesak menuju muara. Cinta menciptakan perbaikan watak dan penghalusan jiwa. Cinta memanusiakan manusia dan mendorong kita memperlakukan manusia dengan etika kemanusiaan yang tinggi.
Jatuh cinta adalah peristiwa paling penting dalam sejarah kepribadian kita. Cinta, kata Quddamah, mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut. Kalau cinta kepada Allah membuat kita mampu memenangkan Allah dalam segala hal, maka cinta kepada manusia atau hewan atau tumbuhan atau apasaja, mendorong kita mempersembahkan semua kebaikan yang diperlukan orang atau binatang atau tanaman yang kita cintai. Jatuh cinta membuat kita mau merendah, tapi sekaligus bertekad penuh untuk menjadi lebih terhormat.
Cobalah simak cerita cinta Letnan Jendral Purnawirawan Yunus Yosfiah, yang suatu saat ia tuturkan pada saya dan beberapa kawan lain. Ketika calon istrinya menyatakan bersedia hijrah dari katolik menuju islam, ia bergetar hebat. ”Kalau cinta telah mengantar hidayah pada calon istrinya,” katanya membatin, ”Seharusnya atas nama cinta ia mempersembahkan sesuatu yang istimewa padanya.” Ia sedang bertugas di Timor Timur saat itu. Maka ia berjanji, ”Besok aku akan berangkat untuk sebuah operasi. Aku berharap bisa memeprsembahkan kepala dedengkot Fretilin untukmu.” Tiga hari kemudian, janji itu ia bayar lunas.
Gampang saja memahaminya. Keluhuran selalu lahir dari mata air cinta. Sebab, ”cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintrainya”, kata Ibnu Qoyyim.

(Dari majalah Tarbawi edisi 81 Th.5/Shafar 1425 H/2 April 2004 M)

Jumat, 23 September 2011

Tanpa ruhiyah kering lah semua......

0 komentar
Dalam menuju sebuah kemengan atau kebangkitan dakwah, bukan hanya di butuhkan sebuah semangat heroisme dan cita-cita dakwah, tanpa memperhatiakn nilai-nilai ruhiyah terhadap aktifis dakwah di dunia kampus, aktivitas ruhiyah sangat lah urgent untuk menyokong kebangkitan dan kemenagan dakwah yang kita lakukan.tanpa nilai – nilai ruhiyah mustahil kemengan itu akan hadir sesuai dengan yang telah di impikan bersama.

Apa lagi kita adalah para dai kampus yang senantisan mengajak orang lain untuk beriman dan bertaqwa kepada ALLAH ,mustahil rasa nya jika kita sendiri kering akan nilai-nilai ruhiyah terhadap diri sendiri,jangan sampai kita menjadi orang-orang bani israil yang di sebut oleh ALLAH dalam Al-qur’an sebagai berikut:

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?(al-baqoroh 44)

Cukup lah jelas ayat ini menggambarkan kepada kita  aktifis dakwah kampus,agar tidak hanya mengajak kepada kebaikan kemudian melupakan diri sendiri untuk benar-benar beribadah kepada ALLAH.karakter dakwah islam bukan hanya mengajak oraang lain untuk berbuat baik,akan tetapi  tidak memperhatikan diri sendiri dan bukan hanya bicara tentang keimanan dan ketaqwaan untuk orang lain , tetapi lupa dengan kondisi keimanan dan ketaqwaan nya sendiri .dalamsurah lain ALLAH berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan(as-shaff3-4)

Oleh sebab itu lah seorang aktivis dakwah haruslah benar benar menjaga kondisi keimanan dan  ketaqwaan nya kepada ALLAH swt serta nilai ihsan dalam beramal  yang akan mengantarkan para kativis dakwah menuju pada kondisi yaqzahah ruhiyah (ruh yang selalu terjaga) dan sur’atul istinjab(cepat merespone,dan peka)terhadap kondisi yang terjadi di dalamkampus maupun kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar, kekuatan ruhiyah dapat di ukur dengan beberapa aspek diantara nya adalah,ruhiyah yang baik akan melahirkan sebuah semangat dalam beribadah,rindu dengan keridhoaan ALLAH , dan berkeinginan kuat untuk menjadi mujahid dan syahi fi sabiliilah kemudian kekuatan ruhiyah juga akan membuat terjaga nya nurani ,sehingga ghiroh terhadap kebenaran dan yang terakhir dalam mengukur kekuataan ruhiyah  adalah berkemauan untuk mencapai tujuan mulia dalam kehidupan.

Sungguh amat rugi besar jika jika kita sebagai aktivis dakwah kampus ,hanyalah berbekal sebuah semngat tanpa memperhatikan nilai-nilai ruhiyah dalam proses terbawi,kemungkinan besar karakter aktivis dakwah kampus yang seperti ini ,tidak akan mampu bertahan lama,karena mereka akan di hinggapi rasa malas di karenakan banyak nya agenda dakwah ,tanpa di selingi dengan nilai ruhiyah.

Hanya dengan kembali kapada ALLAH lah segala kejenuhan dan kemalasan dalam dakwah di dunia kampus akan terobati dan kita mampu menjadi rijal-rijal islam yang tegar dan kokoh,kedekatan terhadap ALLAH pun telah lama di contohkan oleh nabi muhhamad saw ketika beliau membuka dakwah di toif beliau selalu dekat dengan ALLAH dalam situasi dan kondisi bagai mana pun. Berikut pengaduan rosul kepada ALLAH terhadap perlakuan kaum durhaka itu,

Ya ,ALLAH kepada mu aku mengadukan segala kelemahan ku,kurang nya kesanggupanku,dan kerendahan diri ku terhadap manusia.wahai dzat yang maha pengasih dan maha penyayang ,engkaulah pelindung bagi silemah dan engkau adalah pelindungku!kepada siapakah diri ini hendak engkau serahkan ?kepada orang jauh berwajah suram kepadaku,ataukah kepada musuh yang akan menguasai diri ku?jika engkau tidak  murka kepada ku semua tak kan ku hiraukan,karena amat banyak dan besar nikmat yang engkau berikan kepada ku...

Aku berlindung kepada cahaya wajah MU,yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akherat dari murka MU yang hendak engkau turunkan kepada ku,hanya engkau yang berhak menegur  dan mempermasalahkan diri ku hingga engkau berkenan.Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun kecuali atas perkataan MU.

Inilah sebuah warisan besar dan narasi yang takan tergerus oleh jaman ,tentang bagaimana kita harus bersikap sebagai da’i-da’i kampus,agent perubah menuju kampus yang madani islami,dengan kekuatan ruhiyah yang mantap akan hilang semua kelelahan dan kemalasan dalam jalan dakwah ini ,yang hanya adalah kenikmataan dakwah dan kelezatan perjuangan bersama agama yang benar dinul islam.
 Dengan suasana ruhiyah para aktivis dakwah tidakakan di lalaikan dan terjebak dengan halyang bersifat tidak berguna,dan dengan ruhiyah yang mantab pula tidak dapatmenggelincirkan pada jurang ketidakseimbangan dalam dakwah kampus

BY . MOHAMMAD NAJIH.

Sabtu, 09 Juli 2011

Bagaimana Mereka Mendidik Kami (Tulisan seorang Anak Kader Dakwah)

0 komentar
By.faguza abdullah
 
Saya bingung ingin memulai kisah ini dari mana ketika seseorang yang saya hormati meminta saya menuliskan tentang bagaimana orangtua saya mendidik saya—atau lebihnya tepatnya “kami”, saya dan adik-adik saya. Kedua orangtua saya, adalah orang yang betul-betul sederhana. Dan karena saking sederhananya itulah saya merasa bingung apa yang mesti saya tulis di sini.

Mereka bukan siapa-siapa di jagat raya ini. Mereka orang biasa, yang bila berada di antara kerumunan orang tak akan menjadi pusat perhatian. Tapi berbeda jika mereka sudah berada di rumah. Mereka seperti matahari, yang menjadi pusat perputaran planet-planet dalam gugusan bima sakti. Dan kamilah planet-planet itu.

***

Sebelum saya dipindahkan ke SDIT pada kelas 2 SD, saya bersekolah di SD Islam As Salafy. Namanya saja ada embel-embel “Islam”. Tapi nilai-nilai yang ditanamkan, layaknya di sekolah biasa. Nilai-nilai kebaikan standar. Malah, aneh betul kayaknya tiap orangtua murid dan guru memperhatikan saya lantaran saya memakai jilbab dan seragam sekolah yang lebih panjang dari yang lain. Seolah-olah ada yang salah dengan saya.

Ya, saya memang berbeda di antara sekian ratus siswa di sekolah itu. Mata murid-murid melirik, bertanya-tanya; kenapa pakai jilbab ke sekolah? Bukankah pakai jilbab kalau kita ke TPA saja? Apalagi kalau Ummi datang ke sekolah. Wah mencuri perhatian betul itu. Karena Ummi memakai gamis dan jilbab lebar lengkap pula pakai kaus kaki walaupun alas kaki yang digunakan cuma sandal jepit swallow. Kalau Ummi menambah pakaiannya dengan cadar, mungkin mata-mata itu bukan menatap atau melirik lagi. Tapi melotot. Sebaliknya, guru yang pakai jilbab dengan rok sepan sedengkul tidak dianggap aneh.

Mungkin itu perasaan ‘berbeda’ yang saya rasakan pertama kali dengan amat jelas. Pada kenyataannya memang keluarga kami berbeda dengan para tetangga. Tapi jangan salah, berbeda bukan berarti lantas kami menutup diri. Walau Ummi adalah orang yang tidak banyak omong, tapi Ummi ramah pada tetangga. Para tetangga menganggap keluarga kami mungkin keluarga santri atau setidaknya paham agama. Sehingga para orangtua mengirim anak-anaknya ke rumah kami untuk belajar mengaji.

Saya lupa bagaimana dulu orangtua saya menjelaskan pada saya dan adik-adik yang perempuan tentang jilbab. Seingat saya, kelas 1 SD itu saya sudah rutin memakai jilbab kalau keluar rumah. Walaupun baju yang saya kenakan tidak menutup seluruh aurat. Saya kecil kerap memakai baju tidur sedengkul-lengan-pendek, tapi berjilbab, berlari-larian main petak jongkok dengan anak-anak sebaya. Yang saya ingat dulu, Abi seringkali berteriak meledek saya kalau kedapatan saya tidak mengenakan jilbab. Ia memanggil saya begini; “Hei, Ahmad!”

Sebagai anak perempuan kecil, saya ogah diasosiasikan sebagai lelaki.

***

Di rumah kami ada barang yang baru kami punyai ketika saya SMP, yaitu televisi. Sebelumnya, kami tak mengenal baik benda itu. Pernah punya tivi, tapi tidak lama karena tivi yang kami punya masih hitam putih, tivi tahun 60-an dengan gambar yang kruwek-kruwek. Bentuknya juga antik, udah ga jaman banget di tahun 90-an itu; kotak kayu, dengan tombol-tombol untuk pindah channelnya di sisi kanan. Kacanya pun cembung bukan main. Tivi ini juga cuma bisa menangkap dua stasiun; TVRI dan TPI. Yah, mana ada yang mau berlama-lama menonton dengan tivi butut—sementara pada saat itu sudah eranya tivi berwarna dan ber-remote control?

Entah apa memang orangtua kami asli tidak mampu membeli tivi baru atau memang mereka punya prinsip sendiri soal tivi. Tapi yang jelas, tak mudah meminta tivi baru. Jangankan itu, meminta dibelikan mainan baru atau sesuatu yang sedang ngetrend saat itu di dunia anak-anak pun, kami mesti susah-susah mengajukan ‘proposal’ (berupa rengekan yang bisa berujung pada tangisan) apa manfaat barang itu bagi kami.

Ketika lagi trend koleksi kertas surat, hampir seluruh teman sekelas saya yang perempuan punya itu. Begitu juga teman sekelas adik saya. Demam kertas surat melanda satu sekolah (saat itu saya sudah sekolah di SDIT IQRO’). Rasanya, saya saja di kelas yang tidak punya koleksi semacam itu. Saya cuma menonton bagaimana teman-teman saya mengatur kertas-kertas surat nan wangi itu, mengeluarkannya dari map, menjejerkannya di meja, menumpuknya dengan rapi, memasukkannya lagi ke map, lalu mengulang ritme yang sama setiap ada kesempatan sembari bercerita ini beli di mana atau menukar dengan siapa.

Begitu juga saat demam stiker tokoh-tokoh kartun. Saya menjadi penonton. Atau ketika demam koleksi kertas file bergambar. Saya pun tidak punya itu. Atau (lagi) ketika demam pulpen gantung bak wartawan yang tintanya wangi, saya juga tidak punya itu. Saya berbeda. Dan kala itu, perasaan berbeda bukan lagi perasaan pertama, tapi ke sekian kalinya.

Ingin juga sih punya itu semua. Yah saya kan anak kecil biasa yang suka iri melihat milik teman. Tapi meminta pada orangtua itu semua, butuh energi untuk menjelaskan; sebenarnya untuk apa barang-barang itu? Dan orangtua kami, menanyakan hal tersebut bukan untuk basa-basi. Kalau memang kami tidak bisa menjelaskan alasan kenapa kami ingin barang-barang tertentu, mereka tidak akan memberikannya. Mau sampai nangis guling-guling di tanah pun, orangtua kami tidak akan mencabut kata-katanya. Belakangan, saya tahu sebenarnya hati Ummi sakit melihat anaknya meminta sesuatu sampai menangis apalagi sampai guling-guling di lantai. Tapi memang harus ada sakit yang tertanggung untuk sebuah kebaikan.

Ummi ataupun Abi tidak menurunkan posisi tawar demi melihat kami ngamuk sampai guling-guling. Mereka tidak lantas bilang: “Ya deh, ya deh… Abi belikan nanti…” Bagi mereka, kami tidak boleh belajar ‘menangis untuk mendapatkan sesuatu’.

Ketika sudah tenang dari isak tangis dan amukan, barulah ada kata-kata yang mampu meluluhkan hati.

“Bukannya ga boleh punya kertas file. Boleh-boleh aja, tapi kan tadi Ummi nanya; buat apa? Kalo cuma untuk dikoleksi, apa nggak buang-buang uang? Padahal kamu tuh butuh barang lain yang lebih penting. Coba aja liat besok. Pasti besok temen-temen kamu udah bosen sama kertas file. Ganti lagi koleksi yang lain. Dulu juga begitu kan? Semuaaaa punya kertas surat. Tapi lama-lama temen-temen kamu bosen sama kertas surat. Terus ganti sekarang ganti kertas file. Terus dikemanain kertas suratnya? Jadi bungkus cabe? Apa disimpen aja? Apa iya kertas suratnya dipake buat kirim surat ke temen?”

“Tapi kan semua temen punya, masa aku ga punya…”

“Udah, santai aja. Ga ditangkep polisi kok kalo ga punya kertas file…”

Saya yakin, orangtua saya tidak paham teori gelombang otak yang katanya, kalau ingin mendoktrin anak itu paling baik saat otak berada dalam keadaan tenang antara sadar dan tidak. Tapi memang, orangtua saya biasanya mendiamkan dan tidak memberikan wejangan apa-apa saat kami-kami ini mengamuk. Nasehat baru keluar ketika sudah capek menangis dan guling-guling, sementara otak mengirim sinyal ke mata agar mengantuk.

Rasanya, orangtua saya juga tidak berkata; “Nanti kalau Abi ada rezeki, Abi belikan ya kertas suratnya…”

Logis sih, karena bisa jadi ketika Abi ada rezeki, barang yang saya mau (misalnya kertas surat wangi dan bergambar indah itu) sudah tidak ngetrend lagi untuk dijadikan koleksi. Punya tapi telat, kan rasanya ketinggalan jaman banget. Dan memang trend itu begitu. Berubah dengan cepat seiring cuaca.

Ketika Abi ada rezeki, yang Abi belikan pada kami adalah buku. Macam-macam buku dan majalah. Kami juga berlangganan majalah anak-anak Aku Anak Saleh dan Orbit, di samping berlangganan koran Republika. Kami punya setumpuk koleksi kisah nabi-nabi terbitan Rosda Karya yang nama belakang penulisnya saya ingat “Pamungkas”. Saya ingat nama belakangnya saja, karena dulu saya pernah bertanya pada Ummi: “Pamungkas itu artinya apa, Mi?” Ummi jawab: “Terakhir”. Saya ngomong lagi: “Berarti dia anak terakhir dong, Mi?” Ummi jawab: “Iya. Bisa jadi…”. Itu sekedar intermezzo.

Jadi rasanya aneh kalau bilang orangtua saya pelit karena anaknya tidak dibelikan ini-itu yang dimau. Karena memang orangtua saya tidak pelit kalau sudah menyangkut hal-hal-yang-memang-kami-butuhkan-bukan-sekedar-keinginan. Saya ingat, Ummi bahkan pernah menjual cincin satu-satunya agar saya dan Rusyda (adik saya) bisa ikut acara kemah dari sekolah. Acaranya selama tiga hari dan banyak perlengkapan yang harus dibawa. Di saat yang bersamaan, Ummi dan Abi tidak punya cukup uang untuk biaya kemah tersebut. Maka Ummi pergi pagi-pagi ke Pasar Pondok Gede, menjual satu-satunya cincin miliknya yag polos tanpa ukiran dan permata sebagai hiasan, dan pulang ke rumah membawa pula barang-barang yang kiranya kam perlukan selama kemah.

Saya tahu kemudian Ummi menjual cincinnya untuk kami, ketika saya dapati pulang dari pasar Ummi tidak memakai cincin itu lagi. Padahal, cincin itu adalah ciri khasnya. Selalu ada di jari manis kanannya. Sehingga janggal sekali bila mendapati Ummi tanpa cincin emas polos itu.

Peristiwa sederhana ini yang kemudian selalu ingatkan saya; bahwa orangtua kami yang sederhana ini, sebetulnya kaya. Mereka punya banyak stok kesabaran untuk mendidik kami secara konsisten. Mereka punya banyak stok keikhlasan untuk tidak mengungkit apa yang telah mereka lakukan. Mereka punya banyak stok harapan untuk melihat kami menjadi ‘seseorang’ bukan ‘seonggok’.

Hikmah besar di balik ‘kepelitan’ mereka untuk tidak selalu memberikan apa saja yang kami minta; kami belajar menghargai apa saja yang mereka berikan. Kami masih menyimpan boneka yang Ummi belikan ketika kami masih kecil. Jarang-jarang kan Ummi belikan kami boneka? Jadi begitu Ummi memberikan boneka pada kami, boneka itu kami jaga baik-baik. Kami pajang di lemari. Begitu juga buku-buku dari masa kecil kami. Belakangan, kami sumbangkan buku-buku itu untuk taman bacaan dekat rumah.

Bukan hanya pemberian berupa barang, tapi juga momen-momen bepergian yang jarang kami lakukan. Sekalinya kami pergi bersama, walau itu hanya makan bersama di warung tenda pinggir jalan, kami benar-benar menikmatinya dan mengabadikannya dengan cara kami. Yang rajin menulis buku harian, menulis di buku hariannya. Yang senang menggambar, menggambarkan apa saja yang dilihatnya selama pergi bersama.

Coba kalau orangtua kami ‘murah hati’. Kami nangis sedikit, maka datanglah apa yang kami minta. Bisa jadi lambat-laun kami tidak menghargai apa-apa yang orangtua kami berikan karena saking seringnya menerima pemberian dari orangtua kami. Alih-alih berterimakasih, mungkin kami akan protes; “lho kok yang begini? Kan aku minta yang begitu!”. Dengan selektifnya orang tua kami dalam memberikan sesuatu, secara tak langsung kami belajar bagaimana harus berterimakasih dan menghargai pemberian orang lain.

Selain itu, ke-konsisten-an mereka untuk menolak membelikan sesuatu yang manfaatnya kecil, membuat kami belajar setiap kali ada benda yang kami inginkan. Kami belajar menganalisis sendiri, apakah benda itu kemudian layak kami miliki? Kalau tidak, sudahlah lupakan benda itu.

Lalu, adakah kemudian di saat dewasa dan punya penghasilan sendiri, saya dendam untuk memiliki benda-benda yang tak sempat saya miliki di waktu kecil? Untungnya tidak. Sebabnya karena itu tadi, kami senantiasa diajak menganalisis; apakah benda yang saya inginkan ini bermanfaat? Bahkan sampai sekarang, kalau saya punya uang sendiri dan mau beli sesuatu, Ummi pasti menodong dengan pertanyaan; buat apa?

Pernah juga terbersit; Kok Ummi gitu sih? Selalu tanya buat apa. Ini kan uangku sendiri!

Tapi entah bagaimana, ujung-ujungnya saya berpikir ulang; apa manfaat benda itu untuk saya? Dan urung untuk membeli benda tidak penting itu. Mungkin karena saking kuatnya doa Ummi, sampai-sampai saya selalu tidak bisa membantah apa kata Ummi. Walau awalnya membantah, selalu saja berakhir dengan gumaman pada diri sendiri; iya ya, bener juga.

***

Karena kami keluarga sederhana, imbasnya bukan saja susah kalau mau meminta sesuatu. Tapi juga berimbas dari desain rumah kami yang sederhana. Ruangan yang disekat hanya kamar tidur dan kamar mandi. Ruang tamu, ruang tengah, ruang makan menyatu tanpa sekat. Tidak ada lantai dua. Kamar pun hanya tiga; kamar orangtua, kamar anak perempuan, dan kamar anak laki-laki. Tagline untuk rumah kami; ke kanan nyenggol, ke kiri nyenggol.

Hikmahnya punya rumah dengan desain nge-blong begini adalah adanya kontrol yang maksimal di antara anggota keluarga. Kalau ada satu anak yang lagi suram, seisi rumah akan segera tahu karena pas sembunyi di kamar, eh saudara yang lain masuk kamar (yang memang nggak ada kuncinya) terus melihat saudaranya yang satu ini lagi menangis. Melaporlah si saudara yang lain ini pada Ummi; “Mi, Kak Anu nangis di kamar…” Nanti kata Ummi; “Husss… udah diemin dulu…”

Walaupun begitu, Ummi dan Abi menghargai privasi kami. Mereka tidak pernah membuka-buka laci kami tanpa keperluan. Mereka percaya sekali, bahwa satu sama lain di antara kami akan saling mengingatkan kalau misalnya ada suatu barang yang bermasalah. Kan kalau barang itu disembunyikan, artinya barang itu bermasalah. Misalnya saja saya menyembunyikan coklat. Tidak perlu menunggu besok, adik saya yang lain sudah akan menemukannya di hari yang sama. Dan coklat itu memang barang yang bermasalah karena tidak dibagi.

Masih soal kontrol di antara anggota keluarga, semua ruangan yang bermuara di ruang tengah ini juga membawa keuntungan tersendiri bagi Ummi dan Abi. Mereka jadi mudah mengontrol aktivitas kami. Cukup duduk di ruang tengah, maka akan terlihat si Asiah lagi apa, Rufaida lagi apa, Hania lagi apa, dan yang lainnya. Selain itu, juga jadi mudah melihat siapa yang sudah sesore ini belum pulang ke rumah.

Sosialisasi pun tak perlu membuang energi banyak. Misalnya, merutinkan mengaji setiap habis maghrib. Tak perlu menggedor setiap pintu kamar sambil bilang: “hoi, ngaji!”. Sekali lagi, duduklah Ummi di ruang tengah sambil bilang; “ayo, ayo ngaji…” kemudian Ummi dan Abi mengaji di ruang tengah. Yang tadinya urung mengaji, jadi malu sendiri karena seisi rumah mengaji. Begitu juga kebiasaan berdiskusi di rumah kami. Ummi dan Abi jarang berdiskusi hanya berdua di kamar—kecuali kalau hal yang mereka diskusikan bukan menjadi urusan kami. Mereka terbiasa membaca buku, menghafal Qur’an, hadits, juga berdiskusi—dari soal agama, politik, sosial, sampai ekonomi—di ruang tengah. Mau tak mau, kami jadi ikut mendengar dan terbiasa dengan iklim itu.

Abi dan Ummi juga biasa menceritakan apa yang mereka alami hari itu kepada kami semua. Walau mungkin sebenarnya menceritakannya hanya kepada Abi atau Ummi. Tapi apa mau dikata, mereka bercerita di ruang tengah. Kami juga jadi ikut-ikut dengar, lalu nimbrung, lalu ikut-ikutan bercerita. Lama-lama kami pun biasa saling bertukar pengalaman di ruang tengah. Entah sambil makan, atau sambil belajar.

Orangtua kami tidak memaksakan terbangunnya suasana akrab. Mereka tidak memaksa diri mereka untuk nyambung dengan dunia kami. Suasana akrab itu terbangun karena kebiasaan yang sudah lama dibiasakan sejak kami masih kecil; saling terbuka dan bercerita. Rasanya kok aneh saja kalau tidak cerita ke Ummi. Sehingga keresahan-keresahan yang kami rasakan—terlebih yang berhubungan dengan identitas kami sebagai muslim/ah yang mencoba ber-Islam secara kaffah—akan tercetus begitu saja, tanpa perlu ragu menceritakannya pada orangtua.

***

Kalau memutar kembali memori, sepertinya orangtua kami tidak terlalu repot menjebloskan kami untuk aktif dalam tarbiyah. Pemahaman kami akan pentingnya tarbiyah, tidak dipupuk dalam sehari langsung jadi. Di rumah sederhana kami, permasalahan ummat menjadi tema diskusi asyik. Dari diskusi ke diskusi, kesadaran kami akan pentingnya tarbiyah menjadi tumbuh sendiri. Pada awalnya malas datang ke tempat liqo. Kan bisa belajar aja sama Ummi, bantah kami. Tapi Ummi bilang, di rumah belajar juga, di luar belajar lebih banyak lagi. Tidak tanggung-tanggung, saya dan Milla sempat merasakan bagaimana Abi benar-benar amat memaksa kami sampai-sampai kami diantar ke tempat liqo, dan ditunggui pula sampai liqo selesai.

Kesannya, Abi kok kayak ga punya kerjaan lain aja selain nganterin anak liqo dan nungguin. Tapi pemaksaan serupa itu, membuat kami mencerna sendiri; berarti liqo itu emang penting banget ya, sampe-sampe Abi mau nganter dan nungguin aku…

Kami juga tidak lepas dari badai keinginan ingin pakai celana panjang dan jilbab agak naik sedikit. Keresahan itu kami ungkapkan pada Ummi; “kok si Anu pakai bajunya begitu, Mi. Aku boleh ga pakai baju kayak dia? Abis kemaren aku ke sekolah pakai rok dibilangnya kayak ibu-ibu…”

Nah lho… kalo saya jadi Ummi, saya bingung juga mau nasehatin kayak apa.

Ummi pada awalnya membolehkan kami memakai celana panjang asal longgar. Jilbab juga yang penting menutup dada, tidak perlu sampai lewat pinggang. Tapi kok ya baju yang dibelikan Ummi pada kami lagi-lagi rok. Ya apa boleh buat. Toh roknya juga not bad kok. Dan Ummi sekali waktu bilang: “perempuan itu lebih anggun tau kalo pake rok…” agak membesarkan hati sedikit. Tapi kemudian di sekolah, dikomentarin teman lagi: “Perasaan lo pake rok terus deh, sekali-kali dong pake celana panjang… gue pengen deh liat penampilan lo pake celana panjang…”

Komentar teman seperti di atas selalu bikin ciut. Untung kami punya Ummi. Lagi-lagi lapor ke Ummi, teman komentar begini, begitu. Ummi akan bilang: “ga usah didengar… Mereka memang selalu berkomentar. Orang itu kalau mau jadi lebih baik memang cobaannya banyak. Kalau kamu ciut hanya karena komentar begitu, sekarang bayangin jaman dulu waktu jilbab belum zamannya, perempuan yang pakai jilbab dijauhi orang, disangka aliran sesat, bahkan ada yang diusir dari rumah… Padahal perintah pakai jilbab itu ada di Al Qur’an, tapi malah dihina…”

Cerita-cerita itu membuat kami merasa tidak sendiri. Lagipula, kami biasa berbeda. Kami tidak tinggal di tengah-tengah keluarga tarbiyah yang lain. Kami tinggal di kampung yang tingkat pendidikan masyarakatnya rendah sampai-sampai anak kecil diajarkan buang air di kebun-kebun. Sampai-sampai pula, keluarga kami dicap orang Muhammadiyah yang kalo mens pun perempuan tetap sholat, dan kalau ada yang meninggal tidak disholatkan. What? Kayaknya orang Muhammadiyah ga gitu deh…

Jadi, menjadi berbeda di sekolah atau di antara teman sepermainan, adalah menambah sedikit daftar perbedaan kami. Orangtua selalu membesarkan hati kami lewat cerita dan diskusi. Bahwa menjadi berbeda itu sama sekali tidak buruk. Untungnya, nasehat ini tidak serta merta muncul ketika kami puber, di mana kami sudah kenal ‘dunia luar’. Mungkin karena Ummi saya tidak sibuk, dan Abi juga tidak sibuk dalam pekerjaan, jadi kami tidak mengalami missing age di mana ada kalanya kami jauh dari Ummi dan Abi. Mereka benar-benar orang terdekat kami dan teman sejati kami; orang-orang pertama yang kami hampiri ketika ada keresahan dan pertanyaan. Dan saya yakin betul, kedekatan ini tidak dibangun dalam hitungan hari, tapi hitungan tahun; sejak saya masih kecil, hingga kini umur saya menginjak 24 tahun.

***

Tidak ada hal khusus yang diterapkan orangtua kami untuk mendidik kami. Tidak ada buku parenting bertumpuk-tumpuk. Mereka tidak hapal teori psikologi pendidikan. Bahkan mungkin tidak tahu juga ada teori itu. Mereka juga tidak rajin ikut seminar-seminar parenting. Mereka terlampau sederhana untuk itu semua. Mereka mendidik kami dengan ilmu yang mereka punya ditambah dua hal saja: kontinyu dan konsisten. Kontinyu dalam hal mengingatkan, menasehati, dan mencontohkan. Konsisten dalam hal sekali bilang tidak maka tidak; tidak ada prinsip yang berubah.

Seperti matahari pada gugusan bima sakti, mereka terus menyinari, terus menjadi pusat kehidupan kami, tak bosan, tak lelah.

www.islamedia.web.id

Followers

 

Celoteh Bebas. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com